0

Lirik -- Tak Pernah Padam

Tak Pernah Padam by Sandy Sondoro

senyumanmu masih belum terkenang
hadir selalu seakan tak mau hilang dariku dariku
takkan mudah ku bisa melupakan
segalanya yang telah terjadi
di antara kau dan aku, di antara kita berdua

Kini tak ada terdengar kabar dari dirimu
kini kau telah menghilang jauh dari diriku
semua tinggal cerita antara kau dan aku
namun satu yang perlu engkau tahu
api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam

takkan mudah ku bisa melupakan
segalanya yang telah terjadi
di antara kau dan aku, di antara kita berdua

kini tak ada terdengar kabar dari dirimu
kini kau telah menghilang jauh dari diriku
semua tinggal cerita antara kau dan aku
namun satu yang perlu engkau tahu
api cintaku padamu tak pernah padam

api cintaku padamu wooo ooo yeah
kini tak ada terdengar kabar dari dirimu
kini kau telah menghilang jauh dari diriku
semua tinggal cerita antara kau dan aku
namun satu yang perlu engkau tahu
api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam

0

When Someone (Waiting)

When someone is in your heart, they're never truly gone (Mitch Albom, For One More Day)

Sebelumnya, biarkan aku galau malam ini. Tenang saja, galauku takkan sampai esok pagi. Semalam ini saja sampai saatnya kantuk menyerangku. Boleh kan? :D Okesip, boleh! :D

Taukah, seorang laki-laki dan seorang perempuan bisa saja hanya sekedar berteman, tapi pada satu titik mereka akan jatuh untuk satu sama lain, mungkin untuk sementara, mungkin pada waktu yang salah, mungkin terlambat atau mungkin untuk selamanya. Aku dan kau pernah berteman, dan hingga sekarang pun aku rasa tidak ada yang berubah tentang itu. Kita masih berteman, kau setuju kan? Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura buta pada perasaanku sendiri. Aku tau, sadar, sesadar-sadarnya tentang itu. Soal perasaanmu, aku hanya bisa menerka dari semua sinyal analog yang kau kirimkan padaku.

Lalu, aku belajar menyingkirkannya, mengabaikannya, membuangnya jauh-jauh..rasaku. Meski kadang aku 'kembali lagi padamu'. Seperti anak kecil yang sudah bilang tidak mau pulang ke rumah kalo keinginannya tdk dituruti, tetapi tetap pulang ke rumah juga. Tapi sang anak kecil juga tidak akan selamanya bertahan dengan cara seperti. Karena, suatu saat kelak, sang anak pun akan tumbuh dan ia takkan selamanya 'mengalah' pulang ke rumah karena mungkin ia telah menemukan tempat teduh lainnya.

Menunggu. Menunggu, bagi sebagian besar orang adalah hal yang membosankan. Aku termasuk salah satu orang yang akan menyetujui pendapat itu. Tetapi, aku bukanlah orang yang pandai mengelak dari kegiatan menunggu. Aku tau, tapi aku tetap saja menunggu. Menunggumu di bangku itu tanpa tau apakah kau punya alasan untuk datang. Menunggumu lewat di depan mataku. Dulu.

Dari sebuah blog dituliskan : Menunggu adalah membiarkan diri kita ditemukan. Aku menunggu untuk ditemukan olehmu. Meski aku tidak pernah tau pasti apakah kau pernah ingin menemukanku di sana, di tempat di mana rasa ini tumbuh dari bibit yang tak sengaja jatuh. Aku menunggu kau menyadari bahwa aku benar-benar sedang menunggumu. Aku menunggu kau ingat bahwa ada aku yang menunggumu. Aku menunggumu untuk datang dan membawaku pergi dari tempat yang hampir membuat kakiku mengakar di sana. Dulu.

Dan dulu, pernah suatu saat aku duduk di bangku itu, menunggumu. Kau ada di sana. Aku masih ingat bagaimana ekspresi kikuk kita, menelan ragu tentang siapa yang akan memulai mencairkan hening yang mulai membeku. Aku menunduk malu, pura-pura tidak menyadari kehadiranmu di sana. Lalu kau melangkah ragu, sesekali menghela napas, sesekali menoleh ke arahku kemudian berpaling lagi. Dan aku masih di sana, duduk, menutupi kegugupanku dengan memainkan keypad hp, menuliskan kata demi kata yang tertelan kembali di kerongkongan, tersepuh keheningan yang kian menjadi. Hingga akhirnya kau mengalah dan berani memutuskan berhenti diam.

"Heh, Tutik!", sapamu memulai dengan panggilan yang aku hanya rela jika kau yang memanggilku seperti itu. "Menunggu apa atau siapa?", lanjutmu.

Aku mendongakkan kepalaku, menatapmu. Berharap bisa menghentikan suara debum keras di hatiku dengan melihatmu. Tapi, aku salah. Debaran itu semakin kuat dan bahkan aku masih merasakan sisanya meski kau telah berlalu dari sana. Tubuhku bereaksi lebih dulu menjawab pertanyaanmu dengan gelengan kepala, disusul kemudian suaraku yang entah kenapa tiba-tiba bervibrasi.

"Tidak apa-apa", kataku. Aku sedang menunggumu, batinku.

Dan aku berharap aku masih bisa berkata 'dulu' dengan keyakinan yang seyakin-yakinnya. Aku selalu bilang, aku lelah menunggumu. Aku bosan menunggumu. Dan blablabla semacamnya yang intinya mencoba mengakhiri penantian yang entah apa kau pernah tau atau tidak. Tetapi, sesekali aku kembali duduk di 'bangku' itu tanpa aku sadari. Seolah 'bangku' itu terminal pemberhentian bismu, stasiun kereta terakhirmu, bandar udara pesawatmu landed, dan pelabuhan terakhir untuk kapalmu berlabuh. Berharap. Hah!

Tidak tau pasti apakah aku bisa dikategorikan seorang yang sabar dengan menunggu. Tetapi aku memang masih menunggu. Menunggu seseorang menemukanku di sini, atau mungkin menunggu berani berhenti menunggu. I'm waiting for the final moment when you'll say the words that I can't say to you...
0

Perlu Belajar Lagi

Malam ini ada kabar bahagia yang kudengar. Seorang temanku akan menikah dalam 1 atau 2 bulan inilah. Alhamdulillah, ikut seneng :) Akhirnya ada 1 orang lagi yang akan melepas kegalauan :) Dan segera memenuhi separuh agamanya :) Terharu :')

Aku cukup tau siapa calon imamnya kelak. Ya, insya Allah masnya itu sholeh dan bisa jadi imam yang bijak lah :D Kapan lagi bisa dapet imam yg sholeh kayak gitu, kataku pada temanku. Rasanya masih belum percaya bahwa dalam hitungan bulan dia sudah menjadi seorang istri, menjadi calon ibu, menjadi calon guru peradaban kecilnya...:) Kapan aku menyusul, tanyanya. Jiah...pertanyaan lembut yg menohok..wkwkwk..:P Tapi, itu bukan hal yg lantas membuatku semakin galau. Justru, entah bgmn, gara-gara pertanyaan itu, aku jadi menyadari banyak hal. Bahwa masih banyak pe-er yg harus kuselesaikan. Aku harus belajar banyak, dan banyak belajar.

Aku pernah membaca suatu artikel yang intinya ketika apabila seseorang sudah ditemukan jalannya untuk menikah, maka saat itu bisa dikatakan bahwa itu berarti Allah telah mempercayakan kepada seorang tersebut berbagi kehidupan dengan seorang yg lain (pasangannya). Bahwa seorang itu telah cukup dewasa dan layak untuk mengarungi bahtera rumah tangga yg kata orang. Bahwa seorang itu telah layak diamanahi suatu tanggung jawab yang lebih besar.

"Nggonamu nggonaku, nggonaku nggonamu" (Punyamu adalah punyaku, punyaku adalah punyamu), kalimat itu sudah tidak asing di jawa. Seseorang yg sudah menikah diharuskan paham dan bisa mengimplementasikan kalimat prinsip itu. Artinya jika sudah menikah, ya apa apa itu milik berdua lah. Sudah tidak ada lagi kata bahwa ini punyaku bukan punyamu. Inilah yg mereka sebut sebagai berbagi kehidupan. Bila yg satu kekurangan, maka yg satu menutupinya. Dan bahwa yg sudah menikah tidak sepantasnya lagi bergantung pada orang tua, juga salah satu hal yg bisa dijadikan tolok ukur kesiapan pasangan itu.

Malam ini, seorang teman saya yg lain berkata,"Nikah itu soal siap atau momen?" Kata teman saya, jika kamu memilih nikah adalah soal momen, maka itu berarti nikah hanya dianggap suatu hal yg butuh kesempatan, bukan perkara prioritas. Dan jika nikah adalah soal siap, maka detik kapanpun jika sepasang menyatakan dan dinyatakan telah siap, maka pernikahaan dapat diselenggarakan pada saat itu juga. Anda pilih yg mana itu bukan perkara yg salah utk dipilih, karena jalan hidup seseorang telah dirancang sesuai dengan kapasitasnya.

Nah, sudahkah anda siap dengan komiten dan tanggung jawabnya kelak? Klo aku sih masih perlu belajar lagi, masih perlu belajar banyak dan banyak belajar :)
0

Lirik -- Lebih Indah

Lebih Indah by Adera

Saat ku tenggelam dalam sendu
Waktupun enggan untuk berlalu
Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
Entah untuk siapapun itu

Semakin ku lihat masa lalu
Semakin hatiku tak menentu
Tetapi satu sinar terangi jiwaku
Saat ku melihat senyummu

Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku

Kini ku ingin hentikan waktu
Bila kau berada di dekatku
Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku
Kan ku petik satu untukmu

Kaulah yang terbaik untukku
Ku percayakan seluruh hatiku padamu
Kasihku satu janjiku kaulah yang terakhir bagiku

0

Menawar Rasa

Membaca lagi posting sebelumnya membuatku teringat lagi pada segala sesuatu yg kunamakan kenangan. Aku tidak menghitung berapa lembar kertas yang telah terisi oleh garis-garis pena tentangmu. Aku menikmati saat aku bisa menuliskannya. Aku sengaja menuliskannya agar aku dapat membacanya lagi, agar aku dapat mengingatnya, agar aku bisa tersenyum ketika mengingat masa-masa itu. Lembar demi lembar yang kubaca entah telah kuulangi berapa kali itu seperti roll film yang berputar diingatanku. Atau bahkan terkadang serasa kembali pada situasi dan tempat yang sama, melihatmu di tempat yang sama dengan ekspresi yang sama. Terkadang aku bisa tersenyum, terkadang aku merasa sedih, kadang amarah dan kecewa, kadang merasa kuat dan tegar. Kau adalah satu yang memberi paket lengkap tentang pemaknaan rasa.

Terkadang kau membuatku merasa sangat yakin pada perasaanmu padaku, kadang kau menghempasku jauh darimu, kadang kau tak menganggapku ada, kadang kau membuatku merasa harus tetap bertahan pada situasi apapun. Dan dengan berbagai macam cara bertahan, aku tau aku berhasil sejauh itu. Kau tau, aku pencemburu. Aku mudah cemburu pada siapa yang mampir di hidupmu, di ceritamu, di sepotong episode hari-harimu, tanpa kau tau itu. Atau mungkin kau berpura-pura tdk tau.

Pernah suatu ketika, aku menge-tag-mu pada salah satu note-ku di facebook. Lalu ada satu atau dua note lain dari seorang wanita yg nama akunnya aisyah. Fakta pahit yang amat menyakitkan adalah kau sama sekali tdk melirik note-ku, dan kau memberi komentar pada note-nya si aisyah itu plus-plus dengan emoticon senyum yang hampir tdk pernah kau berikan padaku. Oke, katakanlah aku berlebihan menanggapi itu. Tapi, tidak sadarkah kau bahwa yang kau lakukan itu seperti kau menghujamkan sebilah pedang tepat di jantungku? Tidak sadarkah kau bahwa emoticon senyum itu sudah sangat cukup bagiku jika kau hendak memberi komentar di note-ku? Dan, ya tentu saja cerita selanjutnya adalah aku cemburu. Aku galau. Tapi, sepertinya kau pun belajar memahami bahwa secepat aku galau, secepat itu pula aku bisa mengatasi kegalauan yg tdk jelas itu.

Aku terlalu terbiasa dengan hal semacam itu. Aku menyebutnya maklum. Memaklumi sikapmu, memaklumi sifatmu, memaklumi situasimu. Benar bahwa aku tdk memiliki hak utk melarangmu dekat dengan wanita manapun. Aku dan kau juga tdk pernah menyepakati apapun. Tetapi aku bukan robot yang sejalur saja mengikuti aliran garis hitam di bawahnya. Aku punya hati dan rasa.

Aku bahkan tidak bisa berpura-pura tdk tau tentang isu ketertarikanmu pada seorang adik tingkat kita yang berinisial "R" itu. Entah kenapa, begitu aku tau tentang itu, hanya satu hal yg aku pikirkan detik itu juga. Selesai. Arghh..kenapa kau slalu begitu? Apakah aku tidak bisa menawar rasamu utkku saja? Untukku saja... Tidak bisakah? 

Yah, tapi sudah tdk akan pertanyakan padamu lagi sekarang. Bahasanya "terserah". Kalau kau bertanya kenapa aku menuliskan hal semacam ini lagi? Ini bukan apa-apa selain karena aku memang sedang ingin menulis saja :D Have a nice day :)