When someone is in your heart, they're never truly gone (Mitch Albom, For One More Day)
Sebelumnya, biarkan aku galau malam ini. Tenang saja, galauku takkan sampai esok pagi. Semalam ini saja sampai saatnya kantuk menyerangku. Boleh kan? :D Okesip, boleh! :D
Taukah, seorang laki-laki dan seorang perempuan bisa saja hanya sekedar berteman, tapi pada satu titik mereka akan jatuh untuk satu sama lain, mungkin untuk sementara, mungkin pada waktu yang salah, mungkin terlambat atau mungkin untuk selamanya. Aku dan kau pernah berteman, dan hingga sekarang pun aku rasa tidak ada yang berubah tentang itu. Kita masih berteman, kau setuju kan? Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura buta pada perasaanku sendiri. Aku tau, sadar, sesadar-sadarnya tentang itu. Soal perasaanmu, aku hanya bisa menerka dari semua sinyal analog yang kau kirimkan padaku.
Lalu, aku belajar menyingkirkannya, mengabaikannya, membuangnya jauh-jauh..rasaku. Meski kadang aku 'kembali lagi padamu'. Seperti anak kecil yang sudah bilang tidak mau pulang ke rumah kalo keinginannya tdk dituruti, tetapi tetap pulang ke rumah juga. Tapi sang anak kecil juga tidak akan selamanya bertahan dengan cara seperti. Karena, suatu saat kelak, sang anak pun akan tumbuh dan ia takkan selamanya 'mengalah' pulang ke rumah karena mungkin ia telah menemukan tempat teduh lainnya.
Menunggu. Menunggu, bagi sebagian besar orang adalah hal yang membosankan. Aku termasuk salah satu orang yang akan menyetujui pendapat itu. Tetapi, aku bukanlah orang yang pandai mengelak dari kegiatan menunggu. Aku tau, tapi aku tetap saja menunggu. Menunggumu di bangku itu tanpa tau apakah kau punya alasan untuk datang. Menunggumu lewat di depan mataku. Dulu.
Dari sebuah blog dituliskan :
Menunggu adalah membiarkan diri kita ditemukan. Aku menunggu untuk ditemukan olehmu. Meski aku tidak pernah tau pasti apakah kau pernah ingin menemukanku di sana, di tempat di mana rasa ini tumbuh dari bibit yang tak sengaja jatuh. Aku menunggu kau menyadari bahwa aku benar-benar sedang menunggumu. Aku menunggu kau ingat bahwa ada aku yang menunggumu. Aku menunggumu untuk datang dan membawaku pergi dari tempat yang hampir membuat kakiku mengakar di sana. Dulu.
Dan dulu, pernah suatu saat aku duduk di bangku itu, menunggumu. Kau ada di sana. Aku masih ingat bagaimana ekspresi kikuk kita, menelan ragu tentang siapa yang akan memulai mencairkan hening yang mulai membeku. Aku menunduk malu, pura-pura tidak menyadari kehadiranmu di sana. Lalu kau melangkah ragu, sesekali menghela napas, sesekali menoleh ke arahku kemudian berpaling lagi. Dan aku masih di sana, duduk, menutupi kegugupanku dengan memainkan keypad hp, menuliskan kata demi kata yang tertelan kembali di kerongkongan, tersepuh keheningan yang kian menjadi. Hingga akhirnya kau mengalah dan berani memutuskan berhenti diam.
"Heh, Tutik!", sapamu memulai dengan panggilan yang aku hanya rela jika kau yang memanggilku seperti itu. "Menunggu apa atau siapa?", lanjutmu.
Aku mendongakkan kepalaku, menatapmu. Berharap bisa menghentikan suara debum keras di hatiku dengan melihatmu. Tapi, aku salah. Debaran itu semakin kuat dan bahkan aku masih merasakan sisanya meski kau telah berlalu dari sana. Tubuhku bereaksi lebih dulu menjawab pertanyaanmu dengan gelengan kepala, disusul kemudian suaraku yang entah kenapa tiba-tiba bervibrasi.
"Tidak apa-apa", kataku. Aku sedang menunggumu, batinku.
Dan aku berharap aku masih bisa berkata 'dulu' dengan keyakinan yang seyakin-yakinnya. Aku selalu bilang, aku lelah menunggumu. Aku bosan menunggumu. Dan blablabla semacamnya yang intinya mencoba mengakhiri penantian yang entah apa kau pernah tau atau tidak. Tetapi, sesekali aku kembali duduk di 'bangku' itu tanpa aku sadari. Seolah 'bangku' itu terminal pemberhentian bismu, stasiun kereta terakhirmu, bandar udara pesawatmu
landed, dan pelabuhan terakhir untuk kapalmu berlabuh. Berharap. Hah!
Tidak tau pasti apakah aku bisa dikategorikan seorang yang sabar dengan menunggu. Tetapi aku memang masih menunggu. Menunggu seseorang menemukanku di sini, atau mungkin menunggu berani berhenti menunggu.
I'm waiting for the final moment when you'll say the words that I can't say to you...